Puisi | Secangkir Kopi di Pagi Hari dan Kehangatan Pelukanmu



Terima kasih telah hadir di kursi itu,
Di pagi hari ini
Awan-awan sedang berselimut
Tampaknya bumi sedanglah kedinginan

Dan beruntung
Aku tak terlambat membuat secangkir kopi di pagi ini

Engkau duduk manis memegang tanganku
Menatapku yakin
Bahwa hidup kadanglah begini
Bukan alam yang berganti haluan
Tapi mungkin kitalah yang tak sering memberinya harapan

Dan beruntung engkau ada
Duduk di kursi itu

Hadirnya dirimu membuatku semakin yakin
Alam berganti pancaroba
Karena ingin merintikkan hujan-hujannya
Kepada pasangan kekasih
Yang memberi hangatnya pelukan di pagi hari
Dingin belum reda
Aku masih di sini, di pagi yang udaranya
Merayapi segala sendi-sendi

Dan beruntung
Secangkir kopiku, masih ada setengah

Dan aku semakin yakin bahwa alam tak pernah berganti
Sebagaimana pagi ini
Di masih adanya kopi tersisa lagi
Semuanya tampak sama

Hadirmu di kursi itu
Hadirmu memegang tanganku
Hangat pelukmu diantara sela-sela rintik-rintik hujan

Namun ketika secangkir kopiku telah habis
Dan awan-awan masih berselimut
Aku mulai ragu, tentang alam yang tak berganti

Semua kehadiranmu hanyalah kiasan-kiasan secangkir kopiku
Yang kubuat dari kenangan hangatnya pelukmu

Buktinya tak ada lagi
Kala secangkir kopiku tak bisa kuminum lagi

*****
Makassar, 11 – November - 2018


- Simak video di bawah ini jika ingin mendengar pembacaan puisinya. Salam


Comments

Popular posts from this blog

3 Puisi Auditorium Karya Sahyul Padarie (TERBARU)

10 Puisi Refleksi Kehidupan : Wahai Sang Malam Semangatkan Kenangan

10 Puisi Refleksi Kehidupan : Setiap Detik Adalah Harapan