10 Puisi Kepada Tuhan : Bayangan dan Sia-siaku


Puisi | Di Mana Letak Bayangan?

Bayangan terletak pada keegoisan
Hasrat keduniaan
Gebu kekuasaan
Seakan selamanya dihidupkan

-

Itulah jawaban ketika kau bertanya
Diakhir hidupmu yang tinggal sedetik saja
Kau berdiri di depannya
Memandangi seribu tanya
Dan berkata:

Andai aku dihidupkan sedetik saja
Kuingin jadi ilalang
Kuingin jadi kunang-kunang
Kuingin jadi gelap malam
Kuingin jadi penyair kesepian

Namun sayang,
Kau telah jadi makhluk penuh kebodohan

*****
Makassar. 06 - Februari - 2019


Puisi | Dunia, Harapan, dan Bayangan

Dunia --
Tempat segala harapan bermunculan
Menjadi lentera terhadap segala hal yang didoakan
Dan harapan tak akan lekang
Walau kadang, keadaan biadab memanjakan

Sebatas meluapkan harapan
Kepada hal-hal indah di dambakan
Yang sejatinya berwujud bayangan

Sanpai pada titik kehilangan
Harapan. Tinggal jadi kenangan
Asa, cita, dan cinta. Tinggal jadi tangisan

Tersadarlah sudah
Semua yang telah diharapkan
Hanyalah pemberhalaan

*****
Makassar. 06 - Februari – 2019


Puisi | Bayangan dan Diri

Diri telah terkelabui
Oleh ego dan hasrat, ambisi
Duniawi

Dengan gagahnya berdiri
Menjelma ksatria penuh pusaka mumpuni

Padahal bayangan dan diri
Besar dan tinggi
Hanya tergantung dari mana cahaya mentari
Menyinari

*****
Makassar. 04 - Februari – 2019


Puisi | Patah Hati dalam Bayangan Warna-warni

Aku patah hati
Bukan pada kekasih yang pergi
Bukan pada mimpi yang tak mampu
Kugapai

Aku patah hati
Bukan pada halusinasi tinggi
Yang tak berujung perwujudan eksistensi

Aku patah hati
Pada apa yang telah tersingkupi diri
Sehingga lupa pada Ilahi

Aku patah pada bayangan yang katanya warna- warni
Yang katanya indah dinikmati
Entah--tak ada yang kupahami

*****
Makassar. 4 - Februari – 2019


Puisi | Bayangan dalam Kehidupan

Telah terperantara
Dalam bayangan
Sesaat seakan menemukan
Hakikat sebuah kenikmatan

Telah terjelaskan
Dalam pergantian siang dan malam
Dibalik sinar bulan dan bintang
Hidup tersandera bayangan

Yang nampak berwujud kebendaan
Terluput cahaya ke-Ada-an
Sebatas mengalir dalam kehidupan
Jiwa-jiwa tak tenang

Perjalanan kehidupan
Terhenti dalam sandera bayangan
Tak terelakkan
Manusia rela dalam keterperdayaan--bayangan

*****
Makassar. 01 - Februari – 2019


Puisi | Masih Inginkah Diri Ini Terkucilkan oleh Dunia dan Bayangannya?

Tetes-tetes hujannya
Indah senjanya
Pancar bulannya
Sinar mataharinya

Andai bisa meminta hidup selamanya
Aku ingin saja di sini -- bersamanya

Sejauh langkahku ingin bersemayam di dalamnya
Sejauh mataku ingin melihat tempat-tempat indahnya
Sejauh hariku ingin merasakan aroma segarnya

Aku tak mampu
Diri ini hanya semakin terkucilkan oleh bayangannya
Lantas, pada siapa aku menggerutu?

Pada diriku
Pada gelisahku
Pada air mataku
Atau kepada puisiku

Masih inginkah diri ini terkucilkan oleh dunia dan bayangannya?

*****
Makassar. 01 - Februari – 2019


Puisi | Bayangan Tak Pernah Berwarna-warni

Bayangan hanya bersifat sendiri
Manusia yang hanya terbuai
Oleh kecendrungan hati
Duniawi

Pagi, siang, dan malam hari
Tak pernah berwarna-warni
Manusia hanya terpulasi diri
Lelap, terbawa dongeng yang tak pernah bercerita tentang mati

Bayangan tak pernah berwarna-warni
Yang berwarna hanyalah diri
Hati
Dan ahlak terpuji

Sedang bayangan
Hanya bayangan

*****
Makassar. 1 - Februari – 2019


Puisi | Dunia, Bayangan, dan Ketiadaannya

Kini tiada di bawah telapak kaki kita
Di bahu-bahu kita ia berada
Berat rasanya
Memikulnya ke mana- mana

Tak ada lagi rasa di hati kita untuk
Memikirkannya
Kefanaan dan bayangannya
Bayangan dan ketiaadaannya

Sungguh,
Manusia memang lemah
Terperdaya
Terlampaui batasnya

Oleh dunia
Bayangan
Dan ketiaadaanya di

Bawah telapak kaki kita

*****
Makassar. 1 - Februari – 2019


Puisi | Gurauan-gurauan Bayangan

Dunia telah mati
Laut telah mati
Gunung telah mati
Gembala-gembala telah mati

Indah tak ada
Bahagia tak ada
Suka tak ada

Gurauanku semata
Sebab aku telah tiada

Posisiku hanya di belakangmu
Bentuk abstrak dari cahaya lampu
Mengikuti gerakanmu
Sampai di kubur waktu
Berakhir dan berlalu

*****
Makassar. 01 - Februari – 2019


Puisi | Bayangan dan Sia-siaku

Hujan yang jatuh
Hati yang runtuh

Pelangi : merah, kuning, hijau
Jiwa yang kelabu

Masihkah kumampu
Menganggap hal-hal terlampau jauh
Bayangan dan sia-siaku

Deraku, rintihku
Padanya--yang berlalu

Dan tibalah aku
Seharusnya tahu
Segala kesia-siaanku
Di waktu yang tak mengguru
Pada apa dan siapa aku

*****
Makassar. 01 - Februari – 2019

Comments

Popular posts from this blog

3 Puisi Auditorium Karya Sahyul Padarie (TERBARU)

10 Puisi Refleksi Kehidupan : Wahai Sang Malam Semangatkan Kenangan

10 Puisi Refleksi Kehidupan : Setiap Detik Adalah Harapan