10 Puisi Kepada Tuhan: Rasakanlah, Hari Telah Berlalu [Upadate Terbaru]


Puisi | Padamu Diri Berhentilah Dikelabui Bayangan Duniawi


Dunia tidaklah buruk
Selama diri tidak melihat bayangannya dari arah yang buruk

Tapi penglihatan diri ini
Tidaklah selalu sempurna

Ia terkadang buta
Atau terkadang sengaja menutup mata
Dari hal-hal yang sementara

Kita terkelabui wahai diri
Kita kalah

Sekadar kita menahan dagu saja?
Dan terperdaya oleh semuanya

Padamu diri berhentilah terkelabui
Oleh bayangan duniawi

*****
Makassar. 03 – Juli – 2019


Puisi | Silakan Menari di Atas Dunia Ini Tapi Jangan Lupa Pakai Topi


Menanrilah
Sampai kau lupa tarianmu di dunia ini
Persiapakan sebotol tuak
Untuk kegembiraanmu terus meluap

Tapi jangan lupa pakai topi
Agar seberhentimu menari
Engkau tersadar
Ada panas sinar matahari
Yang suatu saat pastilah juga berhenti menyinari

*****
Makassar. 03 – Juli – 2019


Puisi | Biar Hidup Tanpa Bayang Kita Akan Masih Tetap Hidup


Walau dunia tak menyukai kita
Dan kita sekadar berkedip saja

Tahan…
Tahan…
Jangan mau terperdaya

Bayangannya akan membunuh keinsananmu
Biarkan ia merayu

Cukuplah puisi ini jadi kata-kata indahmu

Biar hidup tanpa bayangan kita masih tetap hidup
Relakan beberapa tahun
Tak bersama dengannya

*****
Makassar. 03 – Juli – 2019


Puisi | Beranikah Kau Membakar Bayangan Ini?

Ini…
Segenggam api kupegang ini
Ambillah…
Bakar segala bayangannya

Tak perlu takut
Tangismu tertulis di asapnya

Ia tak pernah mempedulikanmu
Atau sekadar ingin menghargai keberadaanmu

Ia hanya ingin melihat
Engkau hidup
Memakai topeng yang begitu indah ia ciptakan

Beranikah kau membakar bayangan ini?

*****
Makassar. 03 – Juli – 2019


Puisi | Sejatinya, Bukanlah Sedih Air Mata Jika Bayangan Dunia Kita Tinggalkan


Dalam hati terus menggerutu
Terasa jantung layu

Kau mengira
Tak ada lagi yang kau punyai

Padahal esensi memiliki
Adalah ketika tak pernah merasa telah mempunyai
Ketika ia harus pergi

Sejatinya, bukanlah sedih air mata jika bayangan dunia kita tinggalkan
Tetapi, adalah keadaan kebahagiaan keabadian

Yang suatu hari nanti
Kan kita tuai bersama peluk hangat Tuhan

Sebagaimana puisi ini, juga adalah persementaran

*****
Makassar. 03 – Juli – 2019


Puisi | Rasakanlah, Hari Telah Berlalu


Dukamu dahulu
Sedihmu dahulu
Gundahmu dahulu

Semuanya telah berlalu,

Tapi kadang kita masih di sini

Terus mencari, terus berlari
Terhadap apa yang sesungguhnya tidak pasti

Semakin mencari
Semakin berlari

Tak ada kepastian selain kepastian Ilahi

Rasakanlah, semuanya akan cepat berlalu
Hari telah berlalu

*****
Makassar. 03 – Juli – 2019


Puisi | Lihatlah Awan-awan di Atas Langit Itu Tak Bisa Kau Sentuh


Lihatlah,
Awan-awan selalu berganti posisi
Dari utara ke selatan
Dari timur ke barat

Ia seperti berputar

Sekadar melihatkah kita
 Tentang ayat empiris-Nya itu?

Hanya objek alam…
Namun tak dapat kita sentuh

Banyangan dunia telah menutup mata kita
Hal yang begitu besarnya
Abai kita eja

*****
Makassar. 03 – Juli – 2019


Puisi | Selimut Bayangan Tak Mampu Mengahangatkan


Dunia sangatlah dingin
Hembusan semua ego
Membuat hati membeku

Dan kita hanya ingin berlindung
Dari selimut bayangan

Setebal apapun selimut itu
Semakin kita dekap
Semakin kita menggigil kedinginan

Pada apa dan siapa
Kita meminta kehangatan?

Padahal tak ada pengharapan
Selain harapan kepada Tuhan

*****
Makassar. 03 – Juli – 2019


Puisi | Adanya Bayangan, Dibaliknya Cahaya Berkilauan


Manik-manik
Berlian-berlian
Emas-emas
Berkilauan

Bayangan.
Pekat
Gelap memperdayakan

Dibaliknya manik-manik, berlian-berlian, emas-emas tak terjamah
Ia terus berkilauan
Menunggu pasangan kebercahayaan

Cahaya berkilauan
Kilau..
Dibalik bayangan

*****
Makassar. 03 – April – 2019


Puisi | Nafas Tidak Berfungsi di Dalam Bayangan

Penuh sesak
Pengap,
Merasa punya ruang luas
Namun sejatinya tak bisa leluasa mengucap

Semua memang berjalan sebagaimana adanya
Namun yakinlah
Semua itu sia-sia

Bayangan begitu hebat penyerupaannya
Sehingga kita tak tahu
Yang mana yang sesungguhnya
Dan yang mana yang sementara

Nafas begitu sesak
Dan kita seakan mati dalam keadaan masih punya anggota badan
Untuk digerakkan

*****
Makassar. 03 – Juli – 2019





© Puisi Sahyul Padarie

Comments

Popular posts from this blog

3 Puisi Auditorium Karya Sahyul Padarie (TERBARU)

10 Puisi Refleksi Kehidupan : Wahai Sang Malam Semangatkan Kenangan

10 Puisi Refleksi Kehidupan : Setiap Detik Adalah Harapan