6 Puisi Balada Sahyul Padarie: Seorang Perempuan yang Takut Menangis
Puisi | Seorang Perempuan Yang Takut Menangis
Aku tertunggali perasaan
Sebagai insan dari cucu istri Adam
Yang dicipta dari pelukan Ayah dan Ibuku
Diantara isi-isi alam yang keras
Yang tak punya nazab sampai ke gunung-gunung tinggi
menjulang
Ketika aku mampu memanggang roti sendiri
Lalu aku memakannya di bawah-bawah pohon berduri
Kuulang-ulang gerak-gerak
tanganku pada durinya
Aku menyukainya sebagiamana ia menyukaiku
Saking sukaku padanya
Tanganku yang berdarah tak pernah aku rasa
5 tahun telah berlalu setelah aku
Aku menjadi Ibu
Kurawat anak-anakku
Dengan kasih sayang tunggal
Karena bapaknya telah lebih dulu pulang
Menemui Tuhan
Selama hidupku
Aku paling takut menangis
Karena air mata bagiku
Adalah simbol lemah keperempuananku
*****
Makassar. 18 – 12 -2018
Puisi | Baru Saja Jadi Sarjana
Ibu aku bangga
Ayah aku bangga
Tetangga-tetanggaku
Semuanya bangga
Karena aku telah mendapat gelar sarjana
Aku pun tersenyum di sudut kota
Bertanya setelah ini lalu apa?
Memandangi orang-orang yang berlalu lalang
Yang telah lama mendapatkan pekerjaan
Akankah aku seperti mereka?
Sedang di kota-kota besar ribuan orang setiap harinya
Melamar kerja
Betapa banyak juga keluargaku dari kampung
Pergi ke kota jadi buruh pabrik
Aku tertawa saja
Jika sedih tak berguna
Atau biar aku yang pulang ke kampung
Merawat hewan-hewan ternak
Merawat kebun nenek
Menikmati secangkir teh di pagi hari
Di antara sawah-sawah yang mulai menghijau
Aku tertawa saja
Jika sedih tak berguna
Sebab gelar sarjana bukan tentang aku jadi siapa
Tapi tentang aku ada untuk apa
*****
Makassar. 18 – 12 – 2018
Puisi | Dalam Diriku dan Waktu
Waktu dan diriku
Denting yang sama-sama berputar terus
Namun waktu tak pernah ada akhirnya
Sampai aku berpikir
Buat apa kuresahkan semua
Jika aku teruslah ada
Walau mungkin nantinya
Tinggal jadi puisi
Yang terlupa
Dalam diriku
Menanjaki anak-anak tangga
Beribu tangga
Sampai ke tangga yang abadi – waktu
Aku dan waktu
Berada dalam ruang yang sama
Yang tampak nyata
Ketika nafas menghembuskan nyawa
*****
Makassar. 18 – 12 – 2018
Puisi | Bukan Penyuka Hujan Tapi Penyuka Mendung
Objek eksotik rindu dan puisi adalah hujan
Berjuta penyair telah menggaungkannya
Namun lain halnya dengan penyair
Yang berada di padang pasir
Ia bukan penyuka hujan
Tapi penyuka mendung
Dari mendung ia ciptakan rima
Dari mendung ia ciptakan majas
Dari mendung ia ciptakan persamaan kata
Menurutnya
Ada keindahan yang tak biasa
Dari objek yang sebenarnya tak kau suka
*****
Makassar. 18 – 12 – 2018
Puisi | Indahkah Matahari Pada Jam 2 Siang
Sinarnya akan membakar kulitmu
Lalu wajahmu
Lalu kakimu
Masihkah kau suka itu?
Orang-orang akan menertawakanmu
Akan mengolok-olokmu
Sebab kau anggap matahari pada jam 2 siang
Adalah keindahan yang hanya aku saja melihatnya
Dan menurutmu lagi
Sisi keindahan bukan pada seberapa cerahnya
Tapi seberapa bisa kau merasa
*****
Makassar. 18 – 12 – 2018
Puisi | Nenek Tak Pernah Sekolah tapi Aku lebih Suka Belajar
Padanya
Kisah-kisah masa lalu
Yang bisa nenek ceritakan padaku
Bukan tentang cerita yang membuat aku terispirasi
Ia hanya ingin sekadar membuatku tertawa
Itu saja.
Ya.. itu saja
Entah kenapa
Atau mungkin nenekku tak punya cerita
Yang dapat ia banggakan kepadaku
Tapi aku lebih suka belajarnya
Darinya aku belajar
Lebih baik bagimu tertawa
Daripada merasa bangga
*****
Makassar. 18 – 12 – 2018
- Simak video di bawah ini jika ingin mendengar pembacaan
puisinya. Salam

Comments
Post a Comment